Batam, STB – Pangdam XXV Sultan Mahmud Riayat Syah, Mayjen TNI Rionardo, untuk sementara menjalankan tugas dari bekas kantor Kodim Batam sembari menunggu pembangunan markas permanen di kawasan Tembesi, Kota Batam, Kepulauan Riau, rampung. Baginya, keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk tetap bekerja dan memperkuat organisasi Kodam yang baru dibentuk.
“Bagi saya, tempat tidak masalah. Yang penting bagaimana kita bekerja,” kata Rionardo.
Dia menjelaskan, fasilitas yang tersedia saat ini masih cukup untuk menunjang operasional Kodam yang baru dibentuk. Sambil menunggu pembangunan markas permanen, jajaran Kodam juga fokus mempersiapkan program kerja, memperkuat organisasi, dan membangun koordinasi dengan instansi terkait.
Pembangunan Makodam XXV Sultan Mahmud Riayat Syah direncanakan berlokasi di kawasan Tembesi, sekitar Bundaran Barelang, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Kompleks tersebut akan berdiri di atas lahan seluas 11,7 hektare.
“Informasi yang kita dapat itu ada di daerah Tembesi, sekitar 11,7 hektare. Itu untuk pembangunan Makodam lengkap dengan balak-balaknya atau badan pelaksana,” ujarnya.
Selain gedung utama, pembangunan juga direncanakan mencakup fasilitas pendukung untuk menunjang tugas dan fungsi satuan di bawah Kodam. Namun, proses pembangunan masih harus melalui sejumlah tahapan sebelum seluruh fasilitas dapat digunakan.
Rionardo menegaskan, keterbatasan sarana pada tahap awal tidak boleh menjadi alasan bagi jajarannya untuk mengurangi kinerja. Penguatan organisasi dan kesiapan operasional tetap menjadi prioritas untuk mendukung tugas pertahanan teritorial di Kepri, wilayah strategis yang berbatasan dengan sejumlah negara tetangga.
Di sisi lain, Rionardo mengaku terhormat atas sambutan pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan masyarakat saat tiba di Kepulauan Riau. Penyambutan dengan adat Melayu itu dinilainya sebagai bentuk penghormatan sekaligus penyemangat untuk menjalankan tugas.
Sebagai putra asli Minangkabau, jenderal lulusan Akademi Militer 1994 tersebut mengaku memiliki kedekatan budaya dengan masyarakat setempat.
“Saya merasa terhormat dengan seluruh unsur yang sudah hadir. Bagi saya, ini membangkitkan motivasi untuk bekerja lebih baik lagi ke depan,” tutupnya.
