Daerah  

Bencana Punya Tanggal, Kehilangan Tidak

Ada sebuah kalimat dalam ucapan Hari Tani Nasional yang membuat saya berhenti sejenak:

“Terus berkembang, berkarya dan menanam harapan untuk pertanian Indonesia yang lebih baik.”

Kalimat itu sederhana. Tentang harapan, tentang pertanian, tentang masa depan. Namun entah mengapa, ketika membacanya, ingatan saya justru kembali kepada 25 November tahun lalu, ketika banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Tapanuli Selatan.

Air sudah surut. Jalan kembali dilalui. Berita pun berganti. Tetapi tidak semua yang hilang ikut kembali ketika air surut.

Di Pulo Lubang, Kecamatan Batang Toru, sekitar 100 hektare lahan pertanian masih menghadapi persoalan. Sebagian sawah tertutup material lumpur, pasir, kayu dan batu, dengan timbunan yang bahkan mencapai satu hingga dua meter.

Bagi orang yang melihatnya dari kejauhan, mungkin itu hanya lahan yang rusak. Tetapi bagi petani, yang tertimbun bukan hanya tanah. Ada pekerjaan yang hilang, musim tanam yang tertunda, penghasilan yang terputus, sementara kebutuhan keluarga tetap berjalan.

Takdir, salah seorang petani, pernah mengatakan kondisi serupa juga dialami petani di Tolang Jae, Tolang Julu dan Lumban Huayan. Sedimentasi masih menutup sebagian persawahan, sementara saluran irigasi yang rusak ikut mengganggu pasokan air ke lahan. Keterbatasan alat berat membuat material yang berat tidak mudah disingkirkan oleh petani sendiri.

Dari sana persoalannya menjadi sederhana, tetapi jawabannya tidak sederhana:

Kapan sawah itu kembali menjadi sawah?

Sebab bagi petani, pemulihan bukan sekadar mengangkat lumpur, pasir, kayu dan batu dari atas tanah. Pemulihan berarti bisa kembali menanam, kembali panen, dan kembali membawa penghasilan ke rumah.

Yanti berharap sawahnya kembali produktif. Bukan semata agar ia bisa bekerja seperti sebelum bencana, tetapi agar kebutuhan keluarganya tetap berjalan, termasuk pendidikan lima anaknya.

Ada pula Raswan yang kini berusia 73 tahun. Ketika lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan tidak lagi bisa digarap, mencari sumber pendapatan lain tentu bukan perkara mudah. Pada usia seperti itu, kehilangan lahan produktif bukan sekadar kehilangan tempat bekerja, tetapi juga kehilangan pegangan untuk menjalani hari-hari.

Di Garoga, cerita kehilangan itu menemukan bentuk yang lebih sederhana sekaligus menyentuh: warga berdiri di pinggir jalan membawa kardus untuk meminta bantuan.

Bukan karena mereka tidak ingin bekerja. Justru karena pekerjaan yang selama ini mereka lakukan belum bisa dikerjakan.

Di situlah mungkin kita menemukan wajah lain dari sebuah bencana. Air surut, kamera pergi, berita berganti, tetapi kehidupan warga terus berjalan. Mereka tetap harus menghadapi hari berikutnya dengan kebutuhan yang tidak ikut surut bersama banjir.

Bencana punya tanggal. Kehilangan tidak.

Kehilangan bisa tinggal lebih lama di sawah yang belum dapat ditanami, di kebun yang masih tertutup material, di saluran irigasi yang belum berfungsi, bahkan di tangan seseorang yang akhirnya harus mengangkat kardus di pinggir jalan.

Karena itu, ketika Hari Tani Nasional kembali datang, rasanya tidak cukup hanya berbicara tentang petani sebagai penopang pangan. Kita juga perlu melihat mereka yang sedang kehilangan kemampuan untuk bertani.

Ini bukan tentang menyalahkan siapa-siapa, apalagi mengatakan tidak ada upaya pemulihan. Pemerintah daerah menyebut lahan dengan kerusakan ringan dan sedang telah mendapat intervensi melalui anggaran Kementerian Pertanian. Sementara untuk kerusakan berat, terutama lahan yang tertimbun material hingga satu sampai dua meter, rekonstruksi dan rehabilitasi disebut akan dilakukan secara bertahap.

Itu adalah bagian dari proses. Tetapi bagi petani, waktu juga merupakan bagian dari persoalan.

Mereka tidak hanya menunggu alat berat datang. Mereka menunggu sawah kembali bisa ditanami, musim panen kembali datang, dan penghasilan yang selama ini menjadi penopang keluarga kembali mengalir.

Sementara itu, kebutuhan hidup tidak ikut menunggu.

Anak-anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Dapur tetap harus mengepul. Kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. Karena itu, jeda antara bencana dan pemulihan bukan ruang kosong. Di dalamnya ada kehidupan yang harus terus dipertahankan.

Mungkin di sinilah makna “menanam harapan” perlu kita lihat lebih dekat.

Harapan memang harus ditanam. Tetapi harapan membutuhkan tanah.

Bagi petani, tanah bukan sekadar sebidang lahan. Di sanalah pekerjaan berada, penghasilan tumbuh, biaya sekolah anak dicari, dan kehidupan keluarga dipertahankan.

Maka pada Hari Tani Nasional ini, mungkin ada baiknya kita tidak hanya bertanya bagaimana membuat pertanian menjadi lebih baik. Kita juga perlu bertanya:

Sudah sejauh mana petani yang kehilangan sawahnya akibat bencana benar-benar dipulihkan?

Sebab air boleh surut. Material suatu hari bisa diangkat. Jalan bisa kembali dibuka. Tetapi pemulihan baru benar-benar terasa ketika petani kembali berdiri di sawahnya, menanam, menunggu musim, lalu pulang membawa hasil untuk keluarganya.

Sebelum hari itu tiba, barangkali kita belum perlu terlalu cepat mengatakan bahwa cerita bencana telah selesai.

Sebab bagi sebagian petani Tapanuli Selatan, ceritanya masih berlangsung.

Dan mereka masih menunggu satu hal yang paling sederhana:

kembali hidup dari tanahnya sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *