Daerah  

Inflasi Di Banyumas Raya Terkendali, BI Dorong Penguatan Ekonomi dan UMKM

Purwokerto, STB – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Purwokerto mencatat perkembangan ekonomi Banyumas Raya tetap menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika harga sejumlah komoditas. Hail ini tercermin dari inflasi yang masih berada dalam sasaran nasional serta meningkatnya optimisme konsumen di Purwokerto.

Dalam paparannya, BI mencatat inflasi Purwokerto pada Agustus 2026 sebesar 0,39 persen secara bulanan (mtm) dan 3,15 persen secara tahunan (yoy). Sementara inflasi Cilacap tercatat 0,50 persen (mtm) dan 3,08 persen (yoy).

Secara nasional, inflasi Agustus 2026 tercatat 0,21 persen (mtm) atau 3,19 persen (yoy), masih berada dalam sasaran inflasi 2026 sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok pangan, khususnya daging ayam ras, cabai rawit, serta sejumlah komoditas hortikultura.

Kepala KPw BI Purwokerto Aswin Gantina mengatakan, kondisi inflasi yang tetap terkendali perlu dijaga melalui sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, dan masyarakat.

“Inflasi perlu terus dijaga agar tetap terkendali melalui penguatan sinergi pengendalian inflasi, ketahanan pangan, serta peningkatan produktivitas di daerah. Stabilitas harga menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.” ujarnya.

Perkembangan ekonomi Banyumas Raya juga menunjukkan tren positif. Kinerja ekonomi pada triwulan I 2026 didorong oleh menguatnya konsumsi rumah tangga, kenaikan UMP, pencairan THR, penyaluran stimulus pemerintah, serta meningkatnya aktivitas ekonomi selama periode long festive season. Aktivitas investasi, konstruksi, dan sektor pertanian juga turut menopang pertumbuhan.

Dari sisi konsumsi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Purwokerto meningkat dari 95,6 pada Juli 2026 menjadi 104,0 pada Agustus 2026. Peningkatan tersebut dipengaruhi membaiknya keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian saat ini maupun prospek ke depan.

BI Purwokerto akan terus mendorong pengembangan UMKM melalui sejumlah program, antara lain digitalisasi UMKM, digital farming, hilirisasi pangan, fasilitasi pembiayaan, peningkatan produktivitas klaster, hingga pendampingan UMKM berorientasi ekspor. Sepanjang 2019–2025, tercatat 60 UMKM di Banyumas Raya telah go digital, sementara 15 UMKM berhasil melakukan ekspor secara langsung maupun melalui agregator.

Di sisi sistem pembayaran, BI juga mencatat perkembangan penggunaan QRIS yang terus meningkat. Hingga Juni 2026, jumlah merchant QRIS mencapai 44,86 juta, pengguna 66 juta, dengan volume transaksi mencapai 12,55 miliar transaksi secara nasional.

Aswin menegaskan, penguatan ekonomi daerah tidak hanya membutuhkan stabilitas harga, tetapi juga peningkatan produktivitas dan perluasan akses pasar bagi pelaku usaha.

“Kami mendorong agar penguatan ekonomi daerah berjalan bersama dengan peningkatan produktivitas UMKM, digitalisasi, perluasan akses pembiayaan, dan pengembangan pasar. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat”, pungkasnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *