PADANGSIDIMPUAN, STB – Hampir setengah abad Panca Gultom menggantungkan hidup dari becak motor. Dari penghasilan menarik becak, tujuh anaknya tumbuh dan menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana.
Kini, lelaki asal Kelurahan Kayu Ombun, Kota Padangsidimpuan, itu menghadapi kenyataan berbeda. Pendapatan sebagai parbetor semakin sulit diandalkan di tengah kehadiran transportasi online yang dinilai mempersempit ruang mereka mendapatkan penumpang.
Keresahan itu disampaikan Panca bersama ratusan pengemudi becak motor saat mengikuti agenda reses I Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Abdul Rahim Siregar di Kampus UMTS, Jalan Sutan Moh Arif, Kota Padangsidimpuan, Minggu (27/9/2026).
Panca mengaku mulai menjadi parbetor sejak 1975. Selama puluhan tahun, becak motor menjadi sumber penghidupan keluarganya.
“Sudah hampir 50 tahun, dari tahun 1975 sudah jadi parbecak di Kayu Ombun, Padangsidimpuan. Mulai dari becak gobel, Honda dan Vespa. Tujuh anak saya tumbuh dari hasil becak motor dan sekolah hingga sarjana,” ujar Panca.
Namun, kondisi ekonomi yang dihadapi saat ini membuatnya harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Empat bulan lalu, ia menjual Vespa yang digunakannya karena biaya perbaikan dan pengeluaran dinilai tidak lagi sebanding dengan pendapatan.
“Empat bulan lalu saya jual Vespa saya karena sudah tidak sebanding lagi kerusakan dengan pengeluaran serta pemasukan di era sekarang,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Nasution, pengemudi becak motor lainnya. Menurutnya, kehadiran transportasi online semakin mempersempit ruang bagi parbetor untuk mendapatkan penumpang.
“Tolong kami Pak Abdul Rahim Siregar, bagaimana dengan nasib kami para pengemudi becak motor. Bagaimana nasib keluarga kami, transportasi online sudah tidak segan-segan menjemput sewa di depan kami,” ucapnya.
Ia berharap Pemerintah Kota Padangsidimpuan tidak tinggal diam dan ikut mencari solusi atas persoalan yang dihadapi para pengemudi becak motor.
“Kami yang hadir hari ini menunggu sikap Pemerintah Kota Padangsidimpuan. Tolong beri solusi dan perbaiki nasib kami,” katanya.
Menanggapi keluhan tersebut, Abdul Rahim Siregar mengatakan seluruh aspirasi yang disampaikan para pengemudi becak motor akan diperjuangkan dan dikoordinasikan dengan Pemerintah Kota Padangsidimpuan.
“Semua aspirasi yang disampaikan para abang-abang kami parbetor akan kami perjuangkan. Masa depan becak motor akan segera dikoordinasikan dengan Pemerintah Kota Padangsidimpuan,” ujar Abdul Rahim.
Ia juga mendorong pembentukan perkumpulan resmi pengemudi becak motor se-Kota Padangsidimpuan. Menurutnya, wadah tersebut diperlukan agar para pengemudi memiliki legalitas, kepengurusan dan ruang koordinasi yang jelas.
“Perkumpulan para pengemudi becak motor di Kota Padangsidimpuan harus segera kita bentuk, untuk mendapat legalitas, kepengurusan hingga koordinasi,” katanya.
Abdul Rahim menegaskan, persoalan yang dihadapi parbetor perlu ditindaklanjuti, bukan hanya didengar dalam forum reses.
“Kami dari Partai Keadilan Sejahtera siap berjuang dan mencari solusi bagi masa depan parbetor di Kota Padangsidimpuan,” tandasnya.
Bagi Panca dan ratusan parbetor lainnya, persoalan ini bukan sekadar tentang becak yang bersaing dengan transportasi online. Di balik kendaraan yang mereka kemudikan, ada penghasilan, keluarga, dan puluhan tahun kehidupan yang mereka pertaruhkan.














