Purwokerto, STB — Penguatan El Nino pada paruh kedua 2026 berpotensi mengganggu produksi padi dan pasokan pangan di Banyumas. Puncak musim kemarau yang masih diprakirakan terjadi pada Juli-September, dengan curah hujan triwulan III berada pada kategori rendah.
Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Aswin Gantina, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena puncak El Nino diperkirakan bertepatan dengan fase generatif padi yang sangat sensitif terhadap kekeringan, saat melaksanakan paparan pada Media Briefing Regional Insight (13/8).
Berdasarkan data per 30 Juni 2026 menunjukkan sekitar 5.537,6 hektare sawah diproyeksikan memasuki fase generatif kedua saat puncak El Niño, sementara keterbatasan air berpotensi menggeser masa tanam pada 4.057,7 hektare atau 13,2 persen dari total luas baku sawah.
“Adanya Penguatan El Nino berpotensi menekan produksi akibat meningkatnya risiko kekeringan dan pergeseran masa tanam. Untuk menjaga pasokan dan mengendalikan inflasi, BI Purwokerto mendorong optimalisasi irigasi dan pompanisasi, pengelolaan sumber air, penggunaan varietas adaptif, serta penguatan sentra pangan dan digital farming”, katanya.
Untuk itulah kerja sama antar daerah, Operasi Pasar atau Gerakan Pangan Murah, penguatan jaringan distribusi melalui Toko Tani akan terus dioptimalkan. Pengawasan harga pangan strategis serta pemantauan biaya distribusi dan logistik juga akan diperkuat. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kecukupan pasokan, kelancaran distribusi, dan stabilitas harga pangan di tengah risiko kekeringan dan gangguan produksi akibat El Nino. (*)














