Cilacap, STB – Siapa sangka, dari balik stigma Pulau Nusakambangan, lahir produk perikanan berkualitas premium yang mampu menembus pasar internasional. Udang vaname hasil budidaya Warga Binaan di kawasan Bantar Panjang, Nusakambangan, kini resmi masuk dalam rantai pasok ekspor menuju Amerika Serikat.
Keberhasilan tersebut ditandai melalui panen raya yang dipimpin Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, pada Selasa (28/7). Momentum ini menjadi bukti bahwa program pembinaan kemandirian di lembaga pemasyarakatan mampu menghasilkan produk berdaya saing sekaligus membuka harapan baru bagi para Warga Binaan.
Udang vaname yang dipanen merupakan kualitas premium dan telah memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan dipasar global. Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok udang vaname dunia, tetapi juga menunjukkan bahwa proses pembinaan di lapas dapat menghasilkan karya yang bernilai ekonomi tinggi.
Dalam kesempatan itu, Dudung Abdurachman mengapresiasi pengelolaan tambak yang dinilainya berjalan optimal dan terstruktur. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil nyata dari pembinaan yang dilakukan kepada Warga Binaan.
“Hari ini kita panen udang hasil kerja Warga Binaan. Ini satu kolam bisa menghasilkan 12 ton, dan ini ada 20 kolam. Luar biasa, dan ini bisa diekspor ke luar negeri,” ujar Dudung.
Di balik keberhasilan ekspor tersebut, terdapat cerita tentang harapan yang tumbuh di tengah proses pembinaan. Para Warga Binaan yang terlibat dalam budidaya udang menerima premi sebesar Rp25 ribu per hari sebagai bentuk apresiasi atas pekerjaan mereka.
Bagi RH (32), salah seorang Warga Binaan, premi itu memiliki arti lebih dari sekadar tambahan penghasilan.
“Premi per hari Rp25 ribu diberikan setiap minggu. Saya gunakan untuk membeli kebutuhan di sini, kalau lebihnya saya kirim ke keluarga melalui lapas,” tuturnya.
Menteri Imipas menilai keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pembinaan di lapas tidak hanya berorientasi pada keamanan, tetapi juga pada pemberdayaan dan peningkatan keterampilan Warga Binaan agar siap kembali ke masyarakat.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kementerian, lembaga, hingga sektor swasta untuk memperluas manfaat program ketahanan pangan yang dijalankan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
“Kemenimipas tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan seluruh stakeholder agar optimalisasi lahan-lahan idle di lapas dan rutan dapat memberikan kontribusi, meski kecil, bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Agus.
Keberhasilan panen raya ini menjadi gambaran bahwa pembinaan yang dilakukan secara konsisten mampu menghadirkan manfaat ganda: mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus membuka peluang bagi Warga Binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik melalui keterampilan dan pengalaman kerja yang produktif. (*)














