TAPANULI SELATAN, STB – Hampir setahun setelah banjir dan longsor menerjang Pulo Lubang, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), kehidupan petani di kawasan itu belum sepenuhnya pulih.
Sekitar 100 hektare kawasan pertanian yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan warga masih menghadapi persoalan serius. Sebagian persawahan hingga kini tertimbun pasir, batu, kayu dan lumpur dengan ketebalan mencapai satu hingga dua meter.
Bagi warga, kerusakan tersebut bukan hanya soal lahan yang tertimbun material bencana. Ketika sawah tidak lagi bisa digarap, sumber penghasilan keluarga ikut hilang dan sebagian petani terpaksa mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup.
Sutoyo (57), misalnya. Pemilik sawah sekitar 1.600 meter persegi itu kini tinggal di Hunian Tetap (Huntap) Hapesong. Sawahnya belum dapat kembali digarap sehingga ia beralih menjadi penggembala sapi.
“Pasca bencana, saya tidak bisa lagi bertani. Sekarang menjadi penggembala sapi untuk bertahan hidup,” ujar Sutoyo, Jumat (11/9).
Kondisi serupa dialami Raswan (73), pemilik lahan sekitar 2.400 meter persegi di Pulo Lubang. Lahan yang sebelumnya menjadi sumber penghidupannya tertimbun material bencana sehingga tidak lagi mudah dimanfaatkan seperti sebelum banjir.
Sebagian lahannya kini mulai ditanami kelapa sawit. Pilihan itu dilakukan karena mengembalikan lahan menjadi sawah membutuhkan biaya serta penanganan teknis yang cukup besar.
“Sejak bencana, saya kehilangan pekerjaan. Usia saya sudah 73 tahun. Untuk kebutuhan sehari-hari, saya bersama istri hanya pasrah mengandalkan bantuan pemerintah,” tuturnya.
Persoalan pemulihan Pulo Lubang juga tidak berhenti pada material yang menimbun areal persawahan. Bendungan di bagian hulu dan jaringan irigasi sepanjang sekitar empat kilometer yang selama ini menjadi penopang aktivitas pertanian warga ikut mengalami kerusakan.
Sebelum bencana, sekitar 100 hektare kawasan tersebut menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat. Produktivitas pertanian sangat bergantung pada ketersediaan air dari bendungan dan jaringan irigasi yang mengalir ke lahan warga.
Kini, kerusakan infrastruktur tersebut menjadi salah satu hambatan utama untuk menghidupkan kembali pertanian. Membersihkan sawah dari pasir, batu, kayu dan lumpur saja belum cukup apabila pasokan air belum kembali normal.
Karena itu, warga berharap pemulihan tidak hanya menyasar areal persawahan. Kondisi Sungai Batang Toru dan infrastruktur pengendali banjir juga dinilai perlu dibenahi agar lahan yang nantinya kembali produktif tidak terus berada dalam ancaman bencana serupa.
Kekhawatiran warga cukup beralasan. Jika sawah berhasil dibersihkan tetapi persoalan sungai dan pengendalian banjir tidak ditangani secara menyeluruh, pemulihan lahan belum tentu memberikan rasa aman bagi petani.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tapanuli Selatan Akhmad Sani Harchan mengatakan penanganan lahan pertanian dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan.
Menurutnya, sawah yang masuk kategori rusak ringan dan sedang telah mendapat intervensi melalui anggaran Kementerian Pertanian. Sementara lahan pertanian di Kecamatan Batang Toru yang mengalami kerusakan berat belum mendapat penanganan karena material yang menimbun lahan cukup parah.
“Untuk sawah rusak ringan dan rusak sedang, sudah kita intervensi melalui anggaran Kementerian Pertanian. Sementara di Kecamatan Batang Toru kategori rusak berat yang tingkat timbunan sedimen pasir, kayu dan bebatuan bahkan mencapai ketinggian 1–2 meter, belum diintervensi. Secara bertahap akan dilaksanakan rekonstruksi dan rehabilitasi dan ini sudah merupakan isu pembahasan pemerintah pusat,” ujar Sani, Sabtu (12/9).
Pemerintah daerah menyatakan rekonstruksi dan rehabilitasi akan dilakukan secara bertahap. Namun bagi petani, persoalan yang mereka hadapi bukan hanya tentang bagaimana lahan dibersihkan, melainkan kapan sawah benar-benar bisa kembali digunakan untuk bercocok tanam.
Hampir setahun setelah bencana, sebagian petani masih belum mengetahui secara pasti kapan lahan mereka dapat kembali digarap dan seperti apa bentuk penanganan yang akan dilakukan.
Bagi petani seperti Sutoyo, sawah yang belum pulih berarti harus mencari pekerjaan lain. Bagi Raswan yang telah berusia 73 tahun, kehilangan sumber penghidupan membuat kehidupan sehari-hari semakin bergantung pada bantuan.
Pemulihan Pulo Lubang akhirnya tidak cukup hanya dengan mengangkat material bencana dari lahan pertanian. Bendungan dan jaringan irigasi harus kembali berfungsi, sementara kondisi Sungai Batang Toru serta infrastruktur pengendali banjir juga perlu mendapat perhatian agar risiko bencana berulang dapat ditekan.
Sebab bagi petani, sawah bukan sekadar sebidang tanah. Di atas lahan itulah pekerjaan, penghasilan dan kehidupan keluarga mereka selama ini bergantung.
Dan setelah hampir setahun berlalu, pertanyaan yang masih menunggu jawaban tetap sederhana: kapan sawah mereka benar-benar kembali menjadi sawah, dan kapan petani Pulo Lubang bisa kembali hidup dari tanahnya sendiri?














