Batam, STB – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan keseriusannya dalam membenahi persoalan sampah di Kota Batam. Penanganan akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga ke hilir.
Hal ini disampaikannya saat memimpin Focus Group Discussion atau FGD terkait kajian strategi pengangkutan sampah tahun 2026, di Kantor Wali Kota Batam.
Dalam pertemuan tersebut, Pemko Batam menggandeng tenaga ahli dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta sebagai mitra riset. Turut hadir Sekretaris Daerah Firmansyah dan Kepala Brida Batam Efrius.
Amsakar menilai, persoalan sampah di Batam tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Dibutuhkan pendekatan berbasis riset agar kebijakan yang diambil lebih tepat dan berkelanjutan.
Menurut data, volume sampah di Batam saat ini mencapai 800 hingga 1.300 ton per hari. Sementara luas TPA yang tersedia sekitar 49 hektare, dengan beberapa zona yang masih bisa dioptimalkan.
Ke depan, Pemko Batam berencana memanfaatkan lahan TPA yang belum terpakai untuk pembangunan fasilitas waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Tak hanya itu, Amsakar juga membuka peluang keterlibatan pihak ketiga dalam pengelolaan dan pengangkutan sampah, agar pelayanan ke masyarakat bisa lebih maksimal dan terukur.
Dalam diskusi, juga dibahas kemungkinan penggunaan teknologi insinerator plasma tanpa emisi, yang dinilai lebih ramah lingkungan dan efisien.
Selain mengandalkan teknologi, Pemko Batam juga melirik pola pengelolaan berbasis masyarakat, seperti yang diterapkan di Jakarta Barat, dengan melibatkan peran RT dan RW dalam pengangkutan sampah.
Amsakar berharap, kajian yang dilakukan bersama tim ahli ini bisa menghasilkan solusi nyata yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
Dengan langkah ini, Pemko Batam menargetkan penanganan sampah yang lebih modern, terintegrasi, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.














