Gaya Hidup

Opini – Rumah yang Menjadi Sangkar: Ketika Pergi Bukan Lagi Pilihan

Oleh: Desya Elma Nizami

STB– Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh berbagai curhatan anak muda tentang kelelahan hidup bukan hanya karena pekerjaan, tetapi juga karena keluarga. Istilah seperti sandwich generation, anak yang harus menanggung beban ekonomi keluarga, hingga fenomena “tidak bisa pergi dari rumah meski ingin” semakin sering muncul di ruang publik. Di satu sisi, keluarga selalu diposisikan sebagai tempat pulang yang paling aman. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang mulai mempertanyakan: bagaimana jika rumah justru menjadi sumber tekanan?

Fenomena ini bukan sekadar tren digital, melainkan realitas yang telah lama ada. Dalam cerita Dubliners karya James Joyce, khususnya tokoh Eveline, kita melihat bagaimana rumah dapat berubah menjadi ruang yang mengekang. Ia hidup dalam bayang-bayang ayah yang abusif, tuntutan keluarga, dan janji kepada ibunya yang telah meninggal semua itu membentuk satu kondisi yang sulit ditembus: keterikatan yang melumpuhkan. Kondisi Eveline memperlihatkan bahwa keputusan untuk pergi atau tinggal bukanlah persoalan sederhana. Ia mengalami apa yang bisa disebut sebagai emotional paralysis ketidakmampuan mengambil keputusan karena tekanan emosional, rasa bersalah, dan ketakutan terhadap masa depan.

Yang membuat kisah ini terasa relevan adalah kenyataan bahwa banyak anak muda hari ini mengalami hal serupa. Banyak yang ingin “pergi” mencari kehidupan yang lebih baik, lebih sehat, lebih mandiri. Namun keinginan itu sering kali berbenturan dengan realitas: tanggung jawab terhadap orang tua, adik, atau kondisi ekonomi keluarga. Tidak jarang, keputusan untuk tetap tinggal bukan karena ingin, tetapi karena merasa tidak punya pilihan. Di sinilah muncul dilema yang jarang dibicarakan secara jujur.

Budaya kita sering mengagungkan pengorbanan anak terhadap keluarga. Anak yang bertahan dianggap berbakti, sementara yang memilih pergi sering dicap egois. Padahal, tidak semua bentuk bertahan adalah pilihan yang sehat. Ada kalanya bertahan justru berarti menunda kebahagiaan, bahkan mengorbankan kesehatan mental. Ironisnya, tekanan ini sering kali tidak terlihat dari luar. Di media sosial, seseorang mungkin tampak baik-baik saja tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menjalani rutinitas. Namun di dalam, mereka mengalami konflik yang sama seperti Eveline: antara keinginan untuk bebas dan kewajiban untuk tetap tinggal.

Lebih jauh lagi, ketakutan terhadap masa depan juga memainkan peran besar. Pergi berarti menghadapi ketidakpastian sesuatu yang tidak semua orang siap hadapi. Akibatnya, banyak yang memilih bertahan dalam kondisi yang tidak ideal, karena terasa lebih “aman” dibandingkan melangkah ke sesuatu yang belum pasti. Padahal, seperti yang ditunjukkan dalam kisah Eveline, rasa aman itu sering kali hanya ilusi. Ia bukan benar-benar bebas, tetapi terbiasa.

Di era hari ini, ketika narasi “berani keluar dari zona nyaman” sering digaungkan, kita justru melihat realitas yang lebih kompleks: tidak semua orang memiliki kemewahan untuk benar-benar pergi. Ada yang terikat oleh ekonomi, ada yang terikat oleh emosi, dan ada pula yang terikat oleh nilai-nilai yang telah tertanam sejak kecil. Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar “mengapa mereka tidak pergi?” Tetapi, apakah kita benar-benar memahami apa yang menahan mereka?

Rumah seharusnya menjadi tempat bertumbuh, bukan tempat terjebak. Namun ketika rumah berubah menjadi sangkar, keberanian untuk keluar tidak hanya membutuhkan keinginan, tetapi juga kekuatan baik secara mental, sosial, maupun ekonomi. Pada akhirnya, kisah Eveline bukan hanya cerita tentang satu perempuan di masa lalu. Ia adalah cermin bagi banyak orang hari ini yang hidup di antara harapan dan ketakutan, antara kebebasan dan kewajiban. Dan mungkin, di tengah semua itu, kita perlu mulai melihat bahwa tidak semua orang yang bertahan itu kuat
sebagian dari mereka hanya belum menemukan cara untuk pergi.

 

Redaksi Admin

Recent Posts

Fenomena Bediding Diprediksi Bertahan Hingga Muktamar NU, RSUD Jombang Imbau Peserta Waspada

Jombang, Jatim, STB - Fenomena udara dingin atau bediding yang menyelimuti Jawa Timur diprediksi berlangsung…

56 minutes ago

Persiapan Muktamar ke-35 NU di Jombang Dikebut, PCNU Siapkan Posko Pelayanan dan Akomodasi

Jombang - Jatim, STB,- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang terus mematangkan persiapan teknis untuk…

20 hours ago

IJTI Goes to School, Latih Siswa SMK Telkom Darul Ulum Jombang Melek Jurnalistik Digital

Jombang - Jatim, STB, - Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Majapahit menggelar IJTI Goes…

20 hours ago

Tribun Penonton Kejurnas Drift di Purwokerto Ambruk, 75 Penonton Terluka

Purwokerto, STB – Tribun penonton pada ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Drift Seri ke-3 di Kompleks…

2 days ago

KAI Daop 5 Tantang Pekerja Tempuh 81 Km dalam 28 Hari Lewat Getuk Ketan #2

Purwokerto, STB – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto kembali menggelar Program Getuk…

4 days ago

Polresta Barelang Bongkar Fakta Kasus Viral Homestay, 8 Orang Jadi Tersangka

Batam, STB – Kasus pengeroyokan yang viral di media sosial di Homestay Mimi Coco, Kecamatan…

4 days ago