Daerah

Produk Lokal Tapsel Belum Jadi Tuan Rumah di Pasar Sendiri

TAPANULI SELATAN , STB — Sebuah produk makanan ringan tidak cukup hanya mengandalkan rasa untuk memenangkan hati konsumen. Kemasan, harga, ketersediaan barang hingga cara memasarkannya ikut menentukan apakah sebuah produk mampu bertahan di rak-rak penjualan.

Persoalan itu menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.

Di sejumlah outlet, makanan ringan dari luar daerah masih lebih mudah ditemukan. Produk asal Sumatera Barat dan Riau, misalnya, telah lama mengisi pasar Tapsel dan bahkan menjadi langganan konsumen.

Sementara itu, produk lokal perlahan mulai masuk. Namun, kehadirannya belum sepenuhnya mampu menggeser produk yang lebih dulu dikenal pasar.

Dewi Siregar, pengusaha rumah makan Sarayepo Parsariran, Kecamatan Batangtoru, mengatakan produk makanan ringan dari Sumatera Barat dan Riau telah masuk ke outlet miliknya sejak 2017. Sementara produk UKM lokal baru mulai menitipkan produknya sekitar lima tahun terakhir.

“Kalau produk dari Sumatera Barat dan Riau sudah masuk sejak lama. UKM lokal baru mulai memasukkan produknya sekitar lima tahun terakhir,” ujar Dewi dalam keterangan yang dikutip dari Antara, Minggu (23/8/2026).

Beragam makanan ringan tersedia di outlet tersebut, mulai dari untir-untir, kerupuk tempe, kacang tepung, lapo-lapo, kuping gajah, rakik kacang, sarang burung, dodol, dodol garit, kue kacang, kerupuk ubi hingga sarang balam.

Menurut Dewi, persoalannya bukan karena produk lokal tidak memiliki kualitas. Produk UKM Tapsel dinilai memiliki peluang bersaing karena cita rasa dan kualitasnya tidak jauh berbeda dengan produk dari luar daerah.

Namun, masih ada sejumlah hal yang perlu dibenahi agar produk lokal lebih mudah diterima pasar.

“Yang menjadi tantangan itu soal cita rasa, kemasan dan harga. Tiga hal ini harus menjadi perhatian pelaku UKM lokal,” katanya.

Cita rasa perlu dijaga agar konsisten. Kemasan juga harus mampu menarik perhatian konsumen sekaligus memberikan informasi yang jelas mengenai produk. Sementara harga perlu disesuaikan dengan daya beli masyarakat tanpa mengorbankan kualitas.

Bagi pelaku usaha, persoalan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dari hal-hal seperti itulah keputusan konsumen sering kali ditentukan.

Produk dengan rasa yang enak belum tentu langsung dipilih jika kemasannya kurang menarik. Begitu juga sebaliknya, kemasan yang bagus belum cukup jika harga terlalu tinggi atau kualitas rasa tidak konsisten.

Dari sisi pemasaran, pola titip jual sebenarnya memberikan peluang bagi UKM lokal untuk memperluas jangkauan. Produk dapat ditempatkan di outlet tanpa harus memiliki toko sendiri, sedangkan pembayaran dilakukan secara berkala setelah produk terjual.

Peluang tersebut tinggal bagaimana dimanfaatkan lebih luas oleh pelaku usaha di Tapsel.

Dewi berharap semakin banyak pelaku UKM lokal berani membawa produknya ke berbagai outlet dan tidak hanya mengandalkan pemasaran di lingkungan sekitar tempat produksi.

Dengan memperbaiki kualitas, kemasan, harga dan strategi pemasaran, produk lokal dinilai memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan tempat di hati konsumen.

Sebab, persoalannya bukan sekadar tentang produk luar daerah yang masuk dan mengisi pasar Tapsel. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana produk yang dibuat oleh masyarakat Tapsel sendiri mampu meningkatkan daya saingnya.

Pasar lokal sesungguhnya terbuka bagi siapa saja. Produk yang mampu menjaga kualitas, memiliki harga yang sesuai dan mudah ditemukan konsumen akan memiliki peluang untuk bertahan.

Pada akhirnya, produk lokal tidak cukup hanya hadir di rak penjualan. Produk tersebut harus mampu dikenal, dipilih, kemudian dicari kembali oleh konsumen.

Dengan begitu, produk UKM Tapsel bukan hanya menjadi penonton di pasar sendiri, tetapi perlahan dapat menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.

 

 

Redaksi Admin

Recent Posts

Koopsudnas Latih Penanganan Pasca-Force Down di Batam, Uji Kesiapan Lintas Instansi

Batam, STB - Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas) menggelar Latihan Penanganan Pasca-Force Down di Bandara…

5 hours ago

Kasus Dugaan Korupsi Dana Desa 2023, Kades Pulau Medang Masuk Bui

LINGGA - Kejaksaan Negeri (Kejari) Lingga menetapkan Kepala Desa Pulau Medang, Kecamatan Katang Bidare, berinisial…

21 hours ago

Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijayakusuma Cilacap Tolak PDSI Digabung ke Elnusa

Cilacap, STB — Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijayakusuma (SPP PWK) Cilacap menolak rencana penggabungan PT…

2 days ago

401 Gram Sabu Diamankan di Padangsidimpuan, Polisi Dalami Asal Barang

PADANGSIDIMPUAN, STB — Sebanyak 401,03 gram sabu diamankan Satresnarkoba Polres Padangsidimpuan dari seorang pria berinisial…

2 days ago

Kabut Asap Mulai Terasa di Padangsidimpuan, Polisi Bagikan 3.000 Masker kepada Warga

PADANGSIDIMPUAN, STB — Aktivitas warga di sejumlah ruas jalan Kota Padangsidimpuan tetap berjalan di tengah…

2 days ago

PAD Batam Capai Rp2,58 Triliun, Pemko Optimalkan Potensi Ekonomi Daerah

Batam, STB – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batam mencapai Rp2,58 triliun berdasarkan data APBD 2026…

3 days ago