Cilacap, STB – Nyala api gas suar (flare) yang selama puluhan tahun menjadi ikon Kilang Cilacap kini tak lagi sebesar dulu. Bukan karena aktivitas kilang menurun, melainkan hasil inovasi yang dilakukan oleh para pekerja Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap yang berhasil mengubah gas yang sebelumnya terbuang menjadi energi bernilai ekonomi.
Inovasi tersebut tak hanya membuat operasional kilang lebih efisien, tetapi juga menghasilkan penghematan biaya bahan bakar sekitar US$10.387 atau setara Rp170 juta per hari. Dengan demikian, emisi karbon juga berhasil ditekan hingga 7.286 ton CO₂ yang setara dengan kemampuan menyerap karbon dari lebih dari 76 ribu pohon.
Manager Engineering & Development Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Andi Krishnanta Wijaya, mengatakan optimalisasi pemanfaatan gas suar merupakan bagian dari transformasi operasional kilang menuju industri energi yang lebih efisien dan rendah emisi.
“Optimalisasi pemanfaatan gas suar menjadi bukti keseriusan RU Cilacap dalam mendukung dekarbonisasi. Berbagai inovasi yang dikembangkan para pekerja mampu mengubah gas yang sebelumnya dibakar menjadi sumber energi yang dapat dimanfaatkan kembali dalam operasional kilang,” ujar Andi, Sabtu (1/8).
RU Cilacap memiliki lima titik flare yang berada di Kilang I, Kilang II, Kilang Paraxylene Cilacap (KPC), Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), dan Kilang Langit Biru Cilacap (KLBC).
Kini, gas yang sebelumnya dibakar melalui flare dimanfaatkan kembali sebagai fuel gas di Kilang I dan Kilang II. Sementara off gas dari eks Unit KPC dan RFCC diolah menjadi bahan baku (feed) untuk Unit Lube Oil Complex (LOC) III dan Sulphur Recovery Unit (SRU).
Optimalisasi tersebut berhasil menurunkan konsumsi fuel gas 025F-101 rata-rata 1.698 Nm³ per jam atau sekitar 26 ton per hari. Efisiensi itu setara dengan penghematan biaya bahan bakar sekitar US$10.387 setiap hari.
Tak hanya berdampak pada perusahaan, manfaatnya juga dirasakan masyarakat sekitar. Intensitas flaring yang jauh berkurang membuat nyala api lebih kecil sehingga memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan kilang.
Hingga Juni 2026, inovasi ini telah menekan emisi sebesar 7.286 ton CO₂ ekuivalen, menjadikannya salah satu langkah nyata RU Cilacap dalam mendukung target dekarbonisasi nasional.
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Agustiawan, mengatakan efisiensi operasional yang dicapai tidak hanya memperkuat daya saing perusahaan, tetapi juga memperluas manfaat bagi masyarakat.
“Kami terus menjalankan operasional yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Efisiensi yang dihasilkan membuka ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk memperkuat kontribusi kepada masyarakat melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan,” kata Agustiawan.
Menurutnya, penghematan tersebut akan mendukung keberlanjutan berbagai program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan, pelestarian lingkungan, hingga pengembangan ekonomi lokal di sekitar wilayah operasi Kilang Cilacap.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa inovasi sederhana di level operasional mampu menghasilkan dampak besar. Gas yang dulu hanya dibakar kini berubah menjadi sumber energi, menghemat ratusan juta rupiah setiap hari, mengurangi ribuan ton emisi karbon, sekaligus menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman bagi masyarakat sekitar. (*)
Batam, STB - Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas) menggelar Latihan Penanganan Pasca-Force Down di Bandara…
LINGGA - Kejaksaan Negeri (Kejari) Lingga menetapkan Kepala Desa Pulau Medang, Kecamatan Katang Bidare, berinisial…
Cilacap, STB — Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijayakusuma (SPP PWK) Cilacap menolak rencana penggabungan PT…
PADANGSIDIMPUAN, STB — Sebanyak 401,03 gram sabu diamankan Satresnarkoba Polres Padangsidimpuan dari seorang pria berinisial…
PADANGSIDIMPUAN, STB — Aktivitas warga di sejumlah ruas jalan Kota Padangsidimpuan tetap berjalan di tengah…
Batam, STB – Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batam mencapai Rp2,58 triliun berdasarkan data APBD 2026…