PADANGSIDIMPUAN, STB — Menjelang Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tabagsel ke-IX Tahun 2026, anggota organisasi didorong menjaga persaudaraan di tengah perbedaan pilihan sekaligus menggunakan forum konferensi untuk menguji gagasan dan menentukan arah organisasi ke depan.
Jurnalis televisi Sulaiman Siregar mengatakan perbedaan pandangan dalam konferensi merupakan hal yang wajar dalam dinamika organisasi. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya berkembang menjadi perpecahan.
“Solidaritas tidak berarti kita harus selalu memiliki cara berpikir yang sama. Justru organisasi akan menjadi kuat ketika setiap ide dan gagasan berani diuji, didiskusikan, bahkan diperdebatkan secara terbuka,” ujar Sulaiman.
Menurutnya, konferensi tidak seharusnya hanya berkutat pada persoalan siapa yang akan memimpin. Forum tersebut juga perlu menghasilkan gagasan konkret untuk memperkuat profesionalisme wartawan dan menjawab perubahan dunia jurnalistik.
Sulaiman yang telah menjalankan tugas jurnalistik di wilayah Tapanuli Selatan dan Padangsidimpuan sejak 2005 itu menilai perkembangan teknologi digital dan perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi menjadi tantangan yang harus direspons organisasi.
Penguatan kapasitas wartawan, profesionalisme, perlindungan terhadap kerja jurnalistik, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi dinilai perlu menjadi perhatian PWI Tabagsel ke depan.
“Organisasi yang sehat bukan organisasi yang semua orang di dalamnya selalu sepakat, tetapi organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi energi untuk bergerak lebih maju,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi PWI sebagai organisasi profesi wartawan. Independensi, menurutnya, harus diwujudkan melalui sikap profesional, objektif, serta keberanian menyampaikan kritik berdasarkan kepentingan publik dan etika jurnalistik.
“Independensi organisasi harus tetap menjadi pijakan. Kita boleh berbeda pilihan dalam konferensi, tetapi setelah proses konferensi selesai, kita harus kembali dalam satu barisan sebagai keluarga besar PWI dan sesama jurnalis,” ujarnya.
Ketua PWI Tabagsel: Perbedaan Jangan Jadi Perpecahan
Ketua PWI Tabagsel Kodir Pohan mengatakan konferensi harus menjadi momentum memperkuat persatuan dan soliditas anggota.
Kodir menilai perbedaan pandangan maupun pilihan merupakan bagian dari proses demokrasi organisasi. Namun, seluruh peserta tetap harus menjaga etika dan persaudaraan.
“Perbedaan pandangan maupun pilihan dalam sebuah konferensi merupakan hal yang biasa dalam organisasi, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut memutus hubungan silaturahmi dan persaudaraan sesama wartawan,” ujar Kodir.
Ia berharap siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin PWI Tabagsel mampu merangkul seluruh anggota dan membawa organisasi menjadi lebih profesional, independen, serta mampu menghadapi tantangan perkembangan media.
“Yang paling penting bukan hanya siapa yang terpilih, tetapi bagaimana setelah konferensi kita kembali bersama-sama membangun organisasi,” katanya.
Konferensi PWI Tabagsel IX diharapkan menjadi momentum untuk menghasilkan kepemimpinan sekaligus gagasan yang dapat memperkuat organisasi, meningkatkan profesionalisme wartawan, dan menjaga solidaritas sesama anggota.














