Purwokerto, STB – Pusat Studi Kebijakan Publik dan Kepemimpinan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar diskusi bertema “Creative Hub, UMKM dan Digitalisasi: Pilar Ekosistem Ekonomi Kreatif Modern”.
Forum ini menjadi ajang pertemuan antara kalangan akademisi, pembuat kebijakan, hingga pelaku industri kreatif untuk membicarakan langkah konkret dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di wilayah Jawa Tengah bagian barat.
Diskusi menghadirkan tiga tokoh utama, yakni Rektor UMP Jebul Suroso, Ketua Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) sekaligus anggota Komisi VI DPR RI Kawendra Lukistian, serta Pemimpin Redaksi kuatbaca.com Jajang Y. Habib.
Ketiganya menyoroti peran penting creative hub, pelaku UMKM, serta digitalisasi dalam membangun ekonomi kreatif yang kompetitif di era modern.
Ketua Pusat Studi Kebijakan Publik dan Kepemimpinan UMP, Irfan Fakthurohman, mengatakan diskusi ini dirancang sebagai ruang terbuka untuk melahirkan gagasan baru yang berpihak pada kemajuan daerah.
“Purwokerto punya potensi besar untuk tumbuh menjadi creative hub industri ekonomi kreatif di Jawa Tengah bagian barat,” ujarnya.
Sementara itu, Kawendra Lukistian mengapresiasi langkah UMP yang membuka akses bagi UMKM untuk berkembang di lingkungan kampus, sesuatu yang menurutnya masih jarang dilakukan perguruan tinggi di Indonesia.
“Kampus seharusnya bukan hanya tempat pendidikan formal, tapi juga laboratorium kebermanfaatan sosial dan ekonomi,” katanya.
Ia juga mendorong agar mahasiswa tidak hanya disiapkan untuk mencari kerja setelah lulus, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kewirausahaan.
Menurutnya, tugas akhir mahasiswa seperti skripsi bisa diarahkan untuk mendukung pengembangan startup maupun UMKM kreatif sehingga produk yang dihasilkan siap masuk pasar.
Rektor UMP Prof. Dr. Jebul Suroso menyambut baik dukungan Gekrafs dan DPR RI dalam penguatan ekonomi kreatif berbasis kampus.
Ia menyampaikan bahwa UMP tengah merancang langkah strategis menjadikan Banyumas sebagai pusat kajian ekonomi kebangsaan sekaligus ruang tumbuh industri kreatif.
Ia juga menyinggung pentingnya menghidupkan kembali pemikiran tokoh nasional asal Banyumas, Margono Djojohadikusumo, sebagai inspirasi gerakan intelektual dan kewirausahaan di kampus.
“Kami ingin mahasiswa UMP tidak hanya siap kerja, tapi juga siap membuka lapangan kerja. Potensinya besar, mulai dari film pendek, produk kreatif, riset, hingga karya digital,” ungkapnya.
Ke depan, UMP berencana membangun proyek percontohan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kampus dengan pendampingan dari Gekrafs serta jejaring mitra industri kreatif lainnya.
Melalui kegiatan ini, UMP berharap jejaring antara akademisi, industri kreatif, dan para pemangku kepentingan semakin kuat demi terciptanya ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan di Purwokerto dan sekitarnya. (*)














