Trauma di Balik Banjir Bandang: Tangis Anak-anak Seumadam yang Menanti Uluran Hati

Aceh, STB – Banjir bandang yang menerjang Desa Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, tidak hanya merobohkan rumah dan memutus harapan, tetapi juga meninggalkan luka tak kasat mata di hati anak-anak. Di balik tenda-tenda pengungsian, trauma masih membayangi langkah kecil mereka.

Tiga pekan pascabencana, suasana pengungsian belum sepenuhnya pulih. Sejumlah anak terlihat lebih banyak diam, memeluk orang tuanya erat-erat. Tawa yang biasanya menghiasi masa kanak-kanak nyaris tak terdengar. Sebagian dari mereka mudah menangis, enggan bermain dengan teman sebaya, bahkan terbangun di malam hari karena mimpi buruk tentang air bah yang datang tiba-tiba merendam rumah mereka.

“Setiap hujan turun, anak-anak langsung panik. Ada yang berlari mencari ibunya, ada yang menutup telinga sambil menangis,” tutur Ahmad Fauzi, relawan kemanusiaan yang sejak awal berada di lokasi pengungsian. Menurutnya, guncangan mental yang dialami anak-anak jauh lebih berat dibanding kerusakan fisik yang tampak. “Trauma healing sangat dibutuhkan agar mereka bisa kembali merasa aman,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Psikolog Relawan, Siti Rahmawati, M.Psi. Ia menegaskan trauma pada anak korban bencana tidak boleh dipandang sepele. Jika dibiarkan, luka batin itu dapat membekas hingga dewasa. “Trauma bisa memengaruhi kepercayaan diri, konsentrasi belajar, bahkan memicu gangguan kecemasan. Pendekatan sederhana seperti bermain, menggambar, bercerita, dan pendampingan psikolog bisa menjadi pintu awal pemulihan,” jelasnya, Senin (22/12/24).

Bagi para orang tua, penderitaan anak-anak menjadi beban tersendiri. Zakky Mubaroq, warga Desa Seumadam, mengaku hatinya hancur melihat perubahan sikap anaknya sejak banjir bandang melanda. “Kami bisa menahan lapar dan lelah, tapi melihat anak terus ketakutan itu yang paling menyakitkan. Mereka butuh pendampingan, bukan hanya bantuan makanan dan pakaian,” ucapnya lirih.

Di tengah keterbatasan, harapan masih menyala. Warga dan relawan berharap pemerintah daerah bersama lembaga kemanusiaan dapat segera menghadirkan program trauma healing secara berkelanjutan di Desa Seumadam dan wilayah terdampak lainnya di Aceh Tamiang. Agar suatu hari nanti, di balik sisa-sisa bencana, tawa anak-anak kembali terdengar—menjadi tanda bahwa luka perlahan sembuh dan masa depan masih layak diperjuangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *