Memutari Maninjau, Menjemput Harapan di Salareh Aia

Batam, STB – Jalan berliku yang memeluk Danau Maninjau pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Aspal yang terkelupas, bekas longsoran tanah, dan tikungan tajam menjadi saksi perjalanan kemanusiaan Yayasan Mitra Mulia Yapindo di bawah naungan PT Royal Mitra International, bersama Korwil Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumatera.

Perjalanan itu bukan sekadar menempuh jarak, melainkan menembus duka. Di balik medan berat yang dilalui, ada harapan warga Sumatera Barat yang menanti uluran tangan setelah banjir bandang dan tanah longsor merenggut rumah, harta, bahkan orang-orang tercinta.

Dipimpin Direktur Utama PT Royal Mitra International Andihar, rombongan bergerak menyusuri jalur rusak menuju Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam—salah satu wilayah dengan dampak terparah. Ketua IJTI Korwil Sumatera, Gusti Yennosa, bersama para jurnalis turut membersamai langkah itu, memastikan kepedulian tidak hanya diberitakan, tetapi juga dihadirkan.

Tiga jam perjalanan terasa lebih panjang. Kendaraan harus berjalan merayap melewati lumpur dan sisa material longsor. Namun tak satu pun mengeluh. Bagi rombongan, setiap tikungan adalah pengingat bahwa di ujung jalan, ada warga yang bertahan di tengah keterbatasan.

Saat tiba di Salareh Aia, Jumat (12/12/2025), jejak bencana masih nyata. Lumpur mengeras di badan jalan. Rumah-rumah berdiri pincang, sebagian rata dengan tanah. Sebuah sekolah—tempat anak-anak biasa menyimpan mimpi—kini tinggal kenangan.

Di tengah puing itulah bantuan disalurkan. Bukan lewat posko besar, melainkan langsung dari tangan ke tangan warga. Truk yang berhenti di jorong pertama seketika dikerumuni. Wajah-wajah lelah yang selama ini menahan duka tampak menengadah, menyimpan harap yang sederhana: bisa bertahan satu hari lagi.

“Alhamdulillah kami dari PT Royal Mitra International sudah sampai di Salareh Aia dan melihat langsung musibah yang sangat luar biasa dahsyat,” ujar Iwan, perwakilan Yayasan Mitra Mulia Yapindo.
“Setibanya di lokasi, kami langsung menyalurkan bantuan kepada para korban bersama teman-teman jurnalis.”

Bantuan berupa beras, kebutuhan pokok, hingga obat-obatan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga, itulah penopang awal di tengah ketidakpastian. Lebih dari itu, kehadiran rombongan membawa sesuatu yang tak bisa dikemas dalam karung atau kardus: rasa bahwa mereka tidak sendirian.

Pelukan singkat, jabat tangan, dan tatapan mata yang berkaca-kaca menjadi bahasa yang tak terucap. Di antara reruntuhan, dukungan moral terasa sama berharganya dengan logistik.

“Kami berharap bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat terdampak. Tetap tabah dan terus semangat menjalani kehidupan,” tutur Iwan.

Sebelumnya, IJTI Korwil Sumatera telah lebih dahulu menyalurkan bantuan sejak 6 hingga 11 Desember 2025. Ketika Yayasan Mitra Mulia Yapindo berada di Sumatera Barat, langkah pun disatukan. Kepedulian tak lagi berjalan sendiri, tetapi bergandengan, menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

“Kita tidak bisa membayangkan betapa berat kehidupan mereka setelah bencana. Banyak rumah hanyut, ada keluarga yang kehilangan orang tercinta,” kata Gusti Yennosa, yang akrab disapa Oca.

Ia menegaskan, bantuan sengaja disalurkan langsung ke rumah-rumah warga.
“Ini amanah para donatur. Harapan mereka kami titipkan langsung ke tangan masyarakat.”

Di Salareh Aia, bantuan itu bukan sekadar beras dan obat. Ia adalah penanda bahwa di tengah bencana, masih ada empati yang menembus jalan rusak dan medan berbahaya. Bahwa di antara kehilangan dan duka, selalu ada harapan yang datang—perlahan, namun nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *