Daerah  

Kardus di Pinggir Jalan, Luka yang Belum Pulih

Ada pemandangan yang mungkin hanya lewat beberapa detik di mata pengendara.

Sejumlah warga berdiri di pinggir jalan. Di tangan mereka ada kardus.

Mereka menunggu kendaraan melintas. Sesekali tangan terangkat. Bukan untuk melambaikan salam, melainkan berharap ada yang berhenti dan menyisihkan sedikit uang.

Pemandangan itu terlihat di Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Bagi orang yang lewat, mungkin hanya sebuah pemandangan.

Bagi mereka yang berdiri di sana, mungkin itu cara lain untuk mengatakan: kami masih membutuhkan bantuan.

Banjir bandang menerjang Desa Garoga pada 25 November 2025. Air datang membawa lumpur, kayu, dan material lainnya. Setelah air surut, yang tersisa bukan hanya tanah basah dan tumpukan kayu, tetapi juga pekerjaan rumah bagi warga yang kehilangan sumber penghidupan.

Banjirnya sudah pergi.

Tetapi rupanya, tidak semua yang dibawanya ikut pergi.

Sawah masih tertutup lumpur.

Kebun masih disesaki kayu.

Dan pekerjaan yang selama ini menjadi tumpuan hidup belum kembali seperti semula.

Dikonfirmasi pada Jumat (18/9/2026), Kepala Desa Garoga, Risman Rambe, mengatakan mayoritas warga desanya bekerja sebagai petani. Warga yang biasanya pergi ke sawah dan kebun kini belum bisa beraktivitas seperti biasa karena lahan mereka masih dipenuhi material sisa banjir.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi coba kita berhenti sebentar.

Apa yang terjadi ketika seorang petani tidak bisa pergi ke sawah?

Ia tidak sedang mengambil cuti.

Ketika seorang pekebun tidak bisa masuk ke kebunnya, ia juga tidak sedang libur.

Ada kebutuhan yang tetap datang setiap pagi. Beras harus dibeli. Anak tetap membutuhkan biaya sekolah. Dapur tidak mengenal istilah pascabencana.

Mungkin di situlah kardus-kardus itu mulai berbicara.

Bukan dengan suara.

Dengan diam.

Sebab di balik kardus yang diulurkan kepada pengguna jalan, ada cerita tentang pekerjaan yang belum kembali. Ada lahan yang belum bisa disentuh. Ada keluarga yang tetap harus makan meski sumber penghasilannya belum pulih.

Lalu kita bertanya: bukankah banjirnya sudah berbulan-bulan berlalu?

Ya.

Air tahu kapan harus surut.

Tetapi kehidupan tidak sesederhana itu.

Banjir bisa selesai dalam hitungan hari. Membersihkan lumpur, mengangkat kayu, dan membuat lahan kembali bisa dikerjakan membutuhkan waktu yang berbeda.

Karena itu, mungkin kita terlalu cepat menyebut sebuah daerah telah pulih hanya karena air sudah tidak lagi menggenang.

Pulih bukan sekadar jalan kembali terbuka.

Pulih bukan hanya rumah bisa ditempati.

Dan pulih tentu bukan sekadar tidak ada lagi air bah yang datang.

Pulih adalah ketika petani bisa kembali mencangkul tanahnya.

Ketika pekebun bisa kembali memeriksa tanamannya.

Ketika orang tua bisa pulang membawa penghasilan tanpa harus berdiri di pinggir jalan membawa kardus.

Di Garoga, kita melihat sesuatu yang sederhana sekaligus mengganggu.

Orang-orang meminta.

Bukan karena mereka tidak ingin bekerja.

Justru karena pekerjaan yang selama ini mereka lakukan belum bisa dikerjakan.

Barangkali inilah bagian dari bencana yang jarang terlihat setelah kamera meninggalkan lokasi.

Air surut.

Berita berganti.

Bantuan datang dan pergi.

Tetapi warga masih harus menjalani hari berikutnya.

Dan hari setelahnya lagi.

Sampai suatu ketika, mereka berdiri di pinggir jalan dengan kardus di tangan.

Kita boleh saja melewati mereka.

Kendaraan terus berjalan. Jalan tetap ramai. Dunia tetap sibuk dengan urusannya masing-masing.

Tetapi mungkin ada baiknya sesekali kita menoleh.

Bukan untuk merasa kasihan.

Melainkan untuk bertanya: sebenarnya sudah sejauh mana mereka pulih?

Sebab banjir memang punya tanggal.

Air datang, lalu pergi.

Tetapi kehilangan tidak selalu mengenal tanggal.

Ia tinggal di sawah yang belum bisa digarap, di kebun yang masih tertutup kayu, dan mungkin juga di kardus-kardus yang hari ini dibawa warga ke pinggir jalan.

Maka, sebelum kita mengatakan Garoga sudah pulih, mungkin ada baiknya melihat lebih lama ke arah kardus itu.

Sebab kadang-kadang, sebuah kardus kecil bisa bercerita lebih jujur tentang keadaan sebuah desa daripada banyak laporan tentang pemulihan.

Exit mobile version