Agam, STB – Gelap malam belum benar-benar pergi ketika langkah tim Jurnalis Batam dan Korwil IJTI Sumatera akhirnya menjejak tanah Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam. Perjalanan mereka bukan perjalanan biasa—bukan sekadar mengirim bantuan, melainkan menembus keterisolasian, menyusuri pinggiran Danau Maninjau dalam senyap yang dipenuhi suara alam dan jejak bencana.
Kabupaten Agam menjadi salah satu daerah terdampak paling parah akibat banjir bandang yang melanda Sumatera Barat pada November 2025 silam. Dan di antara wilayah yang luluh lantak, Nagari Sungai Batang menjadi satu dari yang paling menyayat hati. Rumah-rumah hilang, hanyut bersama derasnya air bercampur batu-batu besar dari perut gunung. Jalanan terputus, jembatan roboh, akses menuju beberapa jorong pun tertutup total.
Empat jorong—Jorong Nagari, Jorong Labuah, Jorong Kubu, dan kawasan Jorong Kelok 44—sejak awal bencana nyaris terisolasi. Bantuan sulit masuk. Satu-satunya akses adalah menyebrang menggunakan perahu, namun kapasitasnya tak memadai untuk mengangkut logistik dalam jumlah besar.
“Warga cerita kalau banyak bantuan tak bisa masuk. Jangankan kendaraan besar, motor pun tak bisa lewat. Perahu yang ada pun kecil,” ungkap salah satu anggota tim Jurnalis Batam.
Keadaan itu membuat tim mengambil keputusan berisiko: memutar Danau Maninjau, menempuh jalur alternatif sejauh 3 jam perjalanan, melewati jalan yang sebagian besar hancur, licin, dan rawan longsor.
Namun bagi mereka, tidak ada pilihan lain.
Menembus Sunyi Sungai Batang
Nagari Sungai Batang bukan hanya desa biasa. Ia adalah kampung kelahiran Buya Hamka, desa wisata yang biasanya dikunjungi pelancong, bukan disinggahi oleh tim relawan yang membawa cerita duka. Kini, suasana berubah drastis. Senyap, seolah menyimpan luka yang dalam.
Ketua Korwil IJTI Sumatera, Gusti Yennosa, atau yang akrab disapa Oca, menyaksikan langsung betapa besar kerusakan yang terjadi.
“Kita prihatin mendengar keluhan masyarakat yang terdampak sangat parah. Banyak rumah hanyut, hancur tak bersisa. Bahkan ada keluarga yang meninggal dan beberapa masih belum ditemukan,” ucapnya lirih, Senin (8/12/2025) malam.
Dari Batam, tim membawa amanah para donatur: bantuan berupa logistik, makanan, dan kebutuhan harian. Dan mereka memutuskan satu hal penting—bantuan tidak akan diserahkan melalui posko, melainkan langsung ke tangan warga.
“Ini amanah dari para donatur. Mereka ingin bantuan jatuh tepat ke tangan para korban. Maka kami antarkan langsung, satu per satu,” tegas Oca.
Tangis dan Pelukan di Empat Jorong
Sesampainya di empat jorong tersebut, kelelahan tim seolah terbayar. Warga menyambut dengan mata berkaca-kaca. Ada pelukan, ada ucapan syukur, ada kelegaan kecil di tengah situasi yang berat.
“Alhamdulillah, bantuan ini diterima sangat antusias. Bahkan ada warga yang terharu karena bantuan diserahkan langsung, tanpa harus ke posko,” cerita Oca.
Malam itu berubah menjadi ruang perjumpaan antara duka dan solidaritas. Logistik dibagikan, kata-kata penguatan disampaikan, dan sisa-sisa harapan kembali dirajut—meski perlahan.
Bantuan selesai disalurkan menjelang Selasa (9/12/2025) dini hari, ketika udara dingin dan kabut tipis mulai turun di tepian Danau Maninjau. Namun tugas tim belum selesai. Setelah menutup distribusi di Sungai Batang, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Solok untuk misi kemanusiaan berikutnya.
Catatan Perjalanan yang Tak Akan Lupa
Bukan sekadar membawa bantuan, perjalanan ini menjadi saksi bahwa solidaritas bisa menembus daerah yang terisolir, jalur terjal, dan waktu yang panjang. Bagi tim Jurnalis Batam dan IJTI Sumatera, ini bukan sekadar liputan kemanusiaan—ini adalah panggilan hati.
Di balik batu-batu besar yang jatuh dari gunung, di balik jalanan yang terputus, dan di balik air danau yang sunyi, mereka membawa satu pesan:
Bahwa ketika bencana merenggut banyak hal, kepedulianlah yang menyisakan harapan.














