Kebumen, STB — Di Desa Selang, Kabupaten Kebumen, suara anyaman terdengar bersahut-sahutan sejak pagi. Dari tangan-tangan terampil dan cekatan inilah serat alami dari pelepah pisang disulap menjadi keranjang, dekorasi, hingga kap lampu bernilai tinggi.
Tak banyak yang menyangka, bahan baku produk tersebut berasal dari sesuatu yang dulu hanya dianggap sampah yakni pelepah pisang.
Di balik inovasi itu ada sosok Novita Hermawan, pelaku UMKM binaan Kilang Cilacap, yang berhasil mengubah limbah desa menjadi produk ramah lingkungan berkelas dunia.
“Dulu pelepah pisang di sini biasanya dibakar atau dibiarkan membusuk,” kata Novita saat ditemui di lokasi produksi. “Tapi saya percaya, kalau diolah dengan tepat, limbah pun bisa jadi peluang.”
Perjalanan Novita dimulai saat masa pandemi Covid-19. Saat itu, suaminya, Rudi Hermawan, terdampak setelah perusahaan tempatnya berkarier mengalami krisis. Pasangan ini akhirnya memutuskan pulang kampung ke Kebumen dan mencoba membangun usaha dari nol.
Mereka sempat menjalankan usaha mina padi, namun belum membuahkan hasil. Hingga suatu hari, Novita mulai melihat potensi besar dari lingkungan sekitarnya.
“Di desa kami pohon pisang melimpah, tapi pelepahnya tidak dimanfaatkan. Dari situ saya mulai belajar sendiri,” ujarnya.
Dengan ketekunan dan proses panjang trial and error, Novita dan Rudi mulai mengolah pelepah pisang menjadi serat alami. Limbah tersebut dikumpulkan dari petani, dipilah, dikeringkan, lalu dipintal menjadi tali serat yang kemudian dianyam menjadi berbagai produk handmade.
Dari upaya itu, lahirlah Agromina Fiber Indonesia, yang kini dikenal sebagai produsen kerajinan ramah lingkungan berbasis serat pisang.
Produk mereka tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar ekspor seperti Nigeria, Dubai, Chile, Argentina, Belgia, Selandia Baru, hingga Amerika Serikat.
“Setiap pengiriman ke luar negeri selalu jadi momen membanggakan. Rasanya tidak percaya karya dari desa kecil bisa diakui dunia,” kata Rudi.
Usaha ini terus belanjut hingga pada tahun 2021, mereka mendirikan PT Agromina Fiber Java Indonesia dengan prinsip zero waste. Sisa pelepah yang tidak terpakai kembali diolah menjadi bio-leather atau vegan leather.
Tak hanya fokus pada bisnis, Agromina juga membawa dampak sosial. Saat ini perusahaan memberdayakan sekitar 170 perajin, dengan 70 persen di antaranya perempuan, tersebar di Kebumen, Purworejo, Cilacap, Purbalingga, hingga Banjarnegara.
Banyak perajin merupakan ibu rumah tangga yang kini memiliki penghasilan mandiri.
“Yang paling membahagiakan bukan omzetnya, tapi ketika ibu-ibu di desa bisa lebih percaya diri karena punya penghasilan sendiri,” ujar Novita.
Bahkan sejak mendapatkan pendampingan dari Pertamina Kilang Cilacap, usaha ini semakin berkembamg pesat. Pjs Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Sunaryo Adi Putra, menyebut Novita sebagai inspirasi bagi UMKM lainnya.
“Agromina menunjukkan bahwa limbah yang dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk berdaya saing global. Ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Menurut Sunaryo, Kilang Cilacap konsisten memberikan pendampingan, dukungan permodalan, serta membuka akses pameran dan pasar ekspor bagi UMKM binaan agar tumbuh berkelanjutan. Kini Agromina juga telah mengantongi sertifikasi ISO 14001 dan ISO 9001, serta membangun sistem traceability dan geotagging untuk memperluas pasar Eropa.
Kisah Novita menjadi bukti bahwa inovasi bisa tumbuh dari desa, dan harapan dapat lahir dari sesuatu yang tak terduga. Dari pelepah pisang yang dulu dibakar, kini teranyam peluang yang membawa nama Kebumen ke panggung dunia. (*)














