Purwokerto, STB – Penguasaan sains dan teknologi saja dinilai belum cukup untuk mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi persaingan global. Generasi muda juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, memahami perubahan sosial dan ekonomi, serta memiliki nilai dalam menggunakan teknologi.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Ph.D. dalam Seminar Nasional “Sinergi Sains, Teknologi, dan Nilai Kebangsaan dalam Mencetak Generasi Unggul Berdaya Saing Global” di Auditorium Putra Sang Fajar, Kompleks Menara Teratai, Purwokerto, pada Sabtu (19/9).
Di hadapan akademisi dan peserta seminar, Stella menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat. Menurutnya, AI merupakan perkembangan yang tidak dapat diabaikan, tetapi tidak semestinya dijadikan jalan pintas dalam pendidikan tinggi.
“Kalau kita ingin terus eksis dan bermakna di dalam pendidikan, kita harus menanyakan apa peran manusia dalam penciptaan pengetahuan, karena penciptaan pengetahuan itu dilakukan oleh manusia dan AI pada saat ini,” kata Stella.
Ia mengingatkan agar proses berpikir kritis dan penciptaan karya tidak sepenuhnya diserahkan kepada AI. Menurutnya, manusia tetap memiliki peran penting dalam menentukan arah dan kualitas pengetahuan.
“Yang paling penting dan jarang dibicarakan, mampukah kita mengkurasi apa yang penting diketahui, apa yang perlu ditemukan, dan apa yang sebenarnya tidak penting diketahui?” ujarnya.
Stella mengatakan AI memiliki kemampuan mengolah dan menyajikan banyak informasi. Namun, akademisi tetap memiliki peran untuk menentukan informasi yang relevan, berbobot, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Seminar tersebut juga menghadirkan Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia Prof. Dr.-Ing. Ir. Misri A. Gozan, IPU., ASEAN Eng.
Ketua STIE SATRIA Purwokerto Dr. Faizal Wihuda, S.E., M.Si. mengatakan perguruan tinggi perlu memperkuat kolaborasi lintas disiplin agar mahasiswa mampu menghadapi perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
“Kita ingin mahasiswa tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perubahan, berkolaborasi, dan mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Faizal.
Seminar tersebut sekaligus dirangkaikan dengan peluncuran kerja sama STIE SATRIA Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (FEB UNSOED).
Kerja sama ini menjadi bagian dari penguatan jejaring akademik untuk menghubungkan pendidikan, perkembangan teknologi, dan kebutuhan masyarakat. (*)
