Purwokerto, STB – Alunan lagu Di Tepinya Sungai Serayu yang mengiringi kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto kini memiliki cerita baru. Sosok pencipta lagu tersebut, Raden Soetedjo, diabadikan melalui sebuah patung yang diresmikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 5 Purwokerto, Rabu (21/10).
Patung yang berada di area boarding Stasiun Purwokerto itu menjadi bentuk penghargaan terhadap komponis asal Banyumas yang karyanya telah melekat dengan pengalaman perjalanan penumpang kereta api.
Perwakilan keluarga Raden Soetedjo, Meidina Arimbi, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan KAI kepada leluhurnya. Menurut dia, keberadaan patung tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat sosok yang telah berkontribusi dalam dunia musik Indonesia.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih karena ini merupakan bentuk penghargaan kepada kakek kami tercinta, Raden Soetedjo. Karya-karya beliau perlu diketahui masyarakat Banyumas,” ungkap Meidina.
Ia juga mengapresiasi penggunaan lagu Di Tepinya Sungai Serayu sebagai bel kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto. Pihak keluarga tidak menarik royalti atas penggunaan lagu tersebut agar dapat terus dinikmati masyarakat.
“Kami membebaskan royalti karena kami yakin royalti tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan nilai sebuah lagu yang seharusnya diketahui masyarakat Banyumas,” tuturnya.
Vice President KAI Daop 5 Purwokerto, Rangga Putra Maulana, mengatakan lagu Di Tepinya Sungai Serayu telah menjadi bagian dari identitas Stasiun Purwokerto. Karena itu, patung Raden Soetedjo diharapkan dapat memperkenalkan penciptanya kepada penumpang dari berbagai daerah, termasuk generasi muda.
“Bagi kami, lagu ‘Di Tepinya Sungai Serayu’ bukan sekadar penanda kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto. Lagu ini telah menjadi bagian dari identitas dan pengalaman perjalanan masyarakat,” ujar Rangga.
Ia menambahkan, stasiun dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal tokoh dan sejarah daerah di tengah aktivitas perjalanan.
Area patung turut dilengkapi biografi singkat Raden Soetedjo serta replika biola Stradivarius Paganini yang dibuat oleh perajin alat musik asal Banyumas, Sugeng Riyanto.
Pengerjaan patung melibatkan Septian Puji Andriyanto, pematung asal Magelang. Sementara itu, Jatmiko Wicaksono, dosen STIKOM Yogyakarta, bertanggung jawab atas penataan desain artistik.
Peresmian ini merupakan bagian dari Program Bantuan Bina Lingkungan 2026 yang dijalankan melalui kerja sama KAI Daop 5 Purwokerto dengan Yayasan Lestari Banjoemas Raya (YLBR).
Mengenal Raden Soetedjo
Raden Soetedjo lahir di Banyumas pada 15 Oktober 1909. Memiliki cita-cita mengabdikan hidupnya pada musik, ia menempuh pendidikan di Konservatori Musik Roma, Italia.
Selain Di Tepinya Sungai Serayu, ia menghasilkan sejumlah lagu, antara lain Tidurlah Intan, Melati Pesanku, Selamat Berjuang, Keroncong Senja, Hamba Menyanyi, dan Juwita Malam.
Kariernya mencakup peran sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto pada 1946. Dua tahun kemudian, ia memelopori pendirian Orkes Studio Djakarta (OSD), yang terlibat dalam perekaman lagu Indonesia Raya dan menjadi cikal bakal Jakarta Philharmonic Orchestra.
Pada 1950, Soetedjo bergabung dengan Korps Musik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) hingga memperoleh pangkat kehormatan Letnan Muda Udara I AURI. Dedikasinya di bidang seni mendapat penghargaan dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin pada 1968.
Raden Soetedjo wafat di Jakarta pada 12 April 1960 dan dimakamkan di TPU Karet. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama Taman Budaya Soetedja oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Kini, melalui patung di Stasiun Purwokerto, nama Raden Soetedjo hadir berdampingan dengan lagu yang telah lama dikenal para penumpang. Kehadirannya menjadi pengingat akan perjalanan seorang komponis Banyumas yang karyanya tetap terdengar di tengah kesibukan transportasi modern. (*)














